Ayo gabung! Poskan karya anda ke salonsastra@yahoo.com atau salonsastra@gmail.com. Karya anda bisa berbentuk puisi, prosa atau renungan (maks. 1 hal quarto), dalam bentuk teks, audio maupun video. Kunjungi juga Obrolan Sastra Salonsastra di Facebook dan Salon Sastra Grup di Flickr.

1.19.2011

Jadi Cleopatra Semalam

by Alfikry Ilmi
sumber foto : http://www.i243.photobucket.com/

Malam ini bulan ketakutan
bersembunyi di balik bangunan hotel bintang lima.
Kita di dalamnya
menikmati semangkuk kencan
setelah seribu panah rayuan kau lepaskan ke dadaku
usai makan malam.

Cleopatra-lah aku seketika
pasca mahkota janji-janji surga
kau letakkan di atas kepala.

Bangga atau mungkin juga tak sengaja
kau sempat bisikan
bahwa kita bisa berpesta berkat hasil penggelapan dana.
Tak ada yang merasa kehilangan
sebab fakta seketika dialihkan isu yang lebih menarik untuk disimak.
Melebihi candu sinetron rumah tangga dengan cerita membosankan penuh peran antagonis.

Kita pun lalu sama-sama tertawa
atas kemenangan.
Atas kepecundangan.
Serupa aku yang menertawai nasib sendiri
karena nikmat materi berlimpah begini
belum tentu kutemukan esok hari.

Jadi, kucumbui saja kemewahan ini sampai pagi
sampai gelas tak mau lagi dituangi vodka
sampai tubuh tak sanggup lagi dipacu
dan napas kita yang memburu
sama-sama membisu berhimpitan.

Bulan gigil yang ketakuan semalam sudah digusur garangnya matahari.
Kita berpisah di depan sebuah gang
setelah perempatan.
Barangkali kau langsung menuju pelukan anak istri yang setia menanti
kepulanganmu dari rapat luar kota.
Dan aku juga kembali pada kenyataan kontrakan 4x4 meter
dengan beberapa lembar uang ratusan
untuk menghapus semua bekas ciuman dan biaya perawatan badan.


Alfikry Ilmi
Padang, 12 Januari 2011

1.18.2011

SUARA

Endang Supriadi

sumber foto dari internet.


suara sungai suara angin suara kertas suara daun
terdengar di atas ranjang. direkam bulan
suara hirup suara tiup suara datang suara pergi
terdengar dari dalam kereta. diserap matahari

yang demo yang tamu yang cium yang selingkuh
tumpah di jalan. ditonton anak-anak balita
yang memberi yang diberi yang membelot yang sejalan
berkumpul di warung. menjual jiwa         

saling tuding saling tikam saling rajam saling pejam
dicatat dalam kota. cahaya lampu memotretnya
dari arah kuburan. pasrah didenda sabar ditampar
aroma mayat diarak bulan ke ujung-ujung malam

pasar dibakar cinta diadopsi. lidah sungsang
dipaksa bicara. rakyat kehilangan hak dibilang mati
polisi bernyanyi dibilang banci. bumi gonjang-ganjing
sepi menangis ramai dicekal. tangan-tangan menadah air

mana diri mana hati mana budi pekerti. aku di sini
engkau di situ. minta susu air laut yang diberi. ah,
tuhan dibaris awal ditinggal-tinggal. tuhan dibaris
akhir disebut-sebut. kita berlari. terus berlari!

Jakarta, 2009

1.17.2011

MERINGKUK MUNGIL

karya Divin Nahb


sumber foto : http://www.picasaweb.google.com/
Selimutnya adalah luka
Goresannya tersembunyi dari seringai kebisingan
Tak pernah dia mendaras kata,
Bibirnya terkatup
Bungkam

Ceritanya adalah luka
Tawa renyahnya sudah enyah!!
Sedang mata membulir air
Sedang hati berkabut mati

Sadarlah…!!
Tidakkah kau merasa, perih…??
Sementara bumi merenung
Langit dan gempitanya meringis

SAKIT!!

Dia hampa tanpa daya
Ketika kau dan dirimu menyusup jalan sendiri!!
Ketika waktu dikeruk pemburu napsu
Ketika susu di putingmu mengental dan kekar tanganmu tak membelai

Si mungil bisu terpejam
Meringkuk didongengi angin dan kidung sepi

Sendirian…

Tangerang, 10 Mei 2009

1.16.2011

Sufi, Tuhan, Pejabat Negara, Tentara Bersenjata

karya Amien Wangsitalaja

sumber gambar : http://www.adetelur.blogdetik.com/


sebelum sufi mengenal tuhan
ia takut kepada pejabat negara
ia takut kepada tentara bersenjata

setelah sufi mengenal tuhan
ia takut menjadi pejabat negara
ia takut menjadi tentara bersenjata

1.14.2011

Taubat

Karya Senandung Pusara

sumber foto : http://www.nindy91.files.wordpress.com/

Tak kuasa Raga merapuh
Tapaki Tangga
Berkelok  di jurang
lelah kaki ku menyemat kegelapan
Berselimut dosa

Tenggelam akan kesenangan semata
Ku Jamah haram
lupakan halal
Sangat Tak Berartinya diriku
Tanpa Iman

ingin lepas semua dosa
Menutup kelam takdir diri
Hanya
Namamu kuatkan aku

Pijakan beralas Kerikil berserak.
Jerat luka menjadi kecewa
Lemahkan diri diambang kehancuran
Marka marka jalan takdir berlumpur dosa
menjadi titihan nestapa

Astagfirulloh hall'adzim

Berkali kali terucap diantara sandar lesu
Nafasku
Menjadi desahan tertahan
Menahan tangis
seketika dosa dan nista
Menyulusup di palkah palkah jiwa
Dan merah darah
telah menyatu
Di awal taubatku

Ampuni aku Tuhan

U l a r

karya gampang prawoto

sumber foto : dari internet

berkelok
mengitari lorong waktu
sesekali menjulurkan senyum
indah lidahnya

melenggang
tanpa lelah, sambil membaca
baca situasi
kapan berteduh di bawah rindang daun
daun hijau kebiruan

meliuk
liuk sambil sesekali menjilat ludah
ludah yang tak sempat kering
di sela bibirnya
menerobos lampu merah
memasuki vihara juga pura
pura menjilma rosario bahkan tasbih

dengan tenangnya,
mendesis…mendesis…mendesis…
“ rakyat adalah deposito tak berjangka ”
sedangkan
“ umat adalah pinjaman lunak tanpa agunan ”

di balik semak
semak ular itu menggeliat
menanti musim mengganti kulitnya.


Pejambon -plat”S”, 010909

1.12.2011

teruntuk saudara di Lapindo

by peri biru

sumber foto : http://www.yusufwibisono.files.wordpress.com/

Mula-mula gerimis mengiris
Lalu nampak seorang renta gigil nian
Dengan perut kerontang di tepian

Ah..betapa jiwanya bagai layang-layang
Terombang-ambing
Di dera muntahan lumpur

Persetan dgn hidup !!
Mana rumahku ?!!!

Baginya Tuhan tak pernah brengsek
Walau hidup sll setia menggampar
Tak ada senyum...jiwanya membeku bagai salju yang bisu

aku anak tanah jajahan

oleh: inu


sumber foto dari internet

Aku adalah anak dari dendam yang panjang

Darah ayah dan luka hati ibu

Juga perih kakak perempuan yang teraniaya



aku lahir dari keprihatinan

Ketika rumahrumah digeledah

Dan tangisku disambut moncong senjata



aku adalah waris dari tanah terjajah

Apa yang tertanam habis dijarah

Anak cucu tinggalah sampah



Aku adalah bara api

Dendam ini biar kutular

Generasi ke generasi



inu 24 nov 2010

Seorang Perempuan Bernama Ibu

Oleh
Johanes Surapurna

Audio - Video Salon Sastra Jilid 2
Kumpulan Puisi Ibu